Menolak Lupa POEMAHAN : Kisah desa Padat Penduduk Yang Hilang Ditelan Bengawan Solo
Keberadaan sebuah permukiman padat penduduk abad ke-19 bernama Desa POEMAHAN WETAN kini hanya dapat dilacak melalui lembaran kuno. Secara administratif, wilayah yang sempat terekam dalam peta kolonial tahun 1870 ini telah lama hilang tak berbekas dari topografi tepi sungai. Kendati demikian, jejak peradaban tersebut tetap hidup sebagai cikal bakal dari Desa Karangrejo, Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik.
Secara etimologi dalam bahasa Jawa, Kata Poemahan berasal dari akar kata omah yang berarti rumah atau permukiman. Penambahan kata Wetan merujuk pada lokasinya yang berada di sisi timur bantaran Sungai Bengawan Solo. Pada masa kejayaannya desa ini merupakan kawasan agraris yang sangat subur dengan pertumbuhan penduduk yang tergolong padat.
Terjebak di Tikungan Arus Sungai
Catatan sejarah menunjukkan bahwa posisi geografis menjadi faktor utama yang menentukan nasib tragis Desa Poemahan Wetan. Permukiman warga kala itu berada tepat di tikungan tajam aliran sungai Bengawan Solo. Ketika debit air meningkat, wilayah yang berada di dalam tanggul besar tersebut menjadi sasaran utama hantaman arus kuat yang memicu bencana banjir berkepanjangan.
Akibat Luapan air yang terus-menerus menenggelamkan rumah, merusak lahan pertanian, dan mengancam keselamatan jiwa, penduduk desa akhirnya menghadapi titik jenuh ekologis. Bencana alam yang datang bertubi-tubi ini memaksa masyarakat untuk mengambil langkah penyelamatan yang radikal.
Bedol Desa Ke Luar Garis Tanggul
Memasuki awal abad ke-20, seluruh penduduk Poemahan Wetan akhirnya memutuskan untuk pindah dan dipindahkan secara massal (bedol desa). Mereka meninggalkan tanah kelahiran yang rawan bencana dan bergeser agak ke arah timur menuju ke daerah baru yang jauh lebih aman.
Untuk memastikan Keselamatan jangka panjang dari ancaman hidrometeorologi, kawasan permukiman baru ini sengaja dipilih dan dibangun di area yang berada diluar garis tanggul Bengawan Solo, Lokasi di balik benteng buatan peninggalan zaman Hindia Belanda ini terbukti efektif memberikan perlindungan berlapis bagi warga dari luapan sungai terdahsyat sekalipun.
Saksi Kartografi Dan Penyatuan Wilayah
Dokumen kartografi lama tidak hanya mencatat posisi Poemahan Wetan, tetapi juga menunjukkan bahwa daerah baru yang dituju tersebut letaknya berdekatan dengan Penoenggoelan (dalamejaan peta Belanda). Seiring berjalannya waktu dan dinamika tata ruang, eks-Penoenggoelan tersebut mengalami penyusutan status tata kelola administrasi menjadi sebuah dusun yang di kenal sebagai Dusun Gulan.
Melihat potensi perkembangan wilayah yang baru, para sesepuh dari masing-masing entitas permukiman kemudian menggelar musyawarah adat. Pertemuan tersebut menghasilkan kesepakatan besar untuk menyatukan dusun-dusun yang bertetangga menjadi satu kesatuan administrasi desa yang utuh. Kolektivitas itu kemudian sepakat dinamai Desa Karangrejo.
Berdasarkan filosofi bahasa setempat, nama ini memiliki makna mendalam yang diambil dari dua kata : Karang yang berarti tanah atau batu, dan Rejo yang bermakna ramai atau makmur. Secara harfiah, Karangrejo diartikan sebagai "Tanah yang ramai dan makmur". Pemilihan nama tersebut merefleksikan doa bersama agar wilayah baru ini tumbuh menjadi pusat penghidupan yang sejahtera dan aman dari bencana.
Topografi Desa Karangrejo Modern
Kini, sejarah hilangnya Poemahan Wetan dan peleburan Penoenggoelan telah mewariskan tata ruang baru bagi generasi modern. Desa Karangrejo yang masuk ke dalam wilayah administrasi Kecamatan Manyar ini berdiri kokoh di atas wilayah barunya dengan membawah empat wilayah, antara lain:
- Krajan (Karangrejo sebagai Pusat Administrasi)
- Dusun Gulan ( jelmaan dari Penoenggoelan)
- Dusun Lawo
- Dusun Nambi
Bagi masyarakat setempat, lembaran sejarah ini berfungsi sebagai pengingat kolektif mrengenai pentingnya mitigasi bencana berbasis adaptasi geografis. Perubahan nama, pemindahan lokasi ke luar garis tanggul, hingga peleburan dusun menjadi bukti autentik bahwa ketangguhan sebuah masyarakat ditentukan oleh kemampuan mereka dalam bermusyawarah dan beradaptasi demi keselamatan generasi mendatang.
Sumber Referensi :
- https://inigresik.com/nama-desa-lenyap-itu-bernama-peomahan-wetan (Penulis : Eko Jarwanto)
- Peta Topografi Kolonial Belanda Tahun 1870